Sabtu, 13 Agustus 2011

bukan paksaan


“tok tok tok” terdengar suara ketukan pintu.
“nak, bangun nak !! udah jam 06.30.” suara mama terdengar jelas di telingaku.
“iya ma ! bentar lagi!” aku menyahutnya dengan mata yang masih tertutup.
Perlahan aku membuka mata, dan alangkah terkejutnya ketika jam beker kesayanganku menunjukkan pukul 06.30 persis seperti yang dikatakan mama. Aku terlonjak karena sekolahku masuk pukul 06.45. tanpa babibu, langsung aku sambar handuk yang tergantung rapi di sudut kamarku dan segera menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan ganti baju, aku langsung berlari menuju garasi yang ada di samping rumah. Sarapan yang disiapkan mama pun tak sempat aku menyentuhnya. Hanya segelas susu yang aku habisi sebelum berangkat ke sekolah.
Aku memacu kuda besi-ku bak orang kesetanan. Lalu lalang kendaraan lain tak aku hiraukan. Jalanan di kota Kediri memang tak sepadat Malang. Hanya satu tujuanku, sesegera mungkin tiba di sekolah. Namun harapanku untuk datang “tepat waktu” sirna. Sesampainya di sekolah, gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Aku menengok arloji yang melingkar manis di tangan kiriku. 07.05 !!!!! “tidak !!!!!!!!!!!!.” dalam hati terdapat penyesalan kenapa kemarin malam aku begadang nonton film hingga jam 2 pagi ??!!. aku mulai mencari akal untuk dapat masuk ke sekolah. Setelah beberapa saat, akal yang ku pikirkan tak kunjung datang menghampiri otakku. Akhirnya ku beranikan diriku untuk mengahadapi Pak Jajang, security sekolahku yang terkenal dengan kegalakanya dalam mengahadapi siswa yang telat.
“pagi pak !!!” sapaku sok ramah dengan senyum yang ku paksakan dari luar gerbang.
“hemm....” Pak Jajang hanya berdehem dengan suaranya yang khas.
“pak , boleh masuk gag ???” aku bertanya dengan wajah tanpa dosa. Walau sebenarnya jantungku dag dig dug duer !!!.
“eh, loe lagi ron !!! sekarang udah jam berapa ???!!!!” Pak Jajang membentakku.
“ma..maaf pak !!!” nyaliku menciut mendengar suara Pak Jajang yang bagai petir di siang bolong.
“plis pak. Ijinkan saya masuk. Ntar sepulang sekolah saya traktir baksonya Mang Ujang dech !!!! suer !!!” aku pun memasang wajah yang memelas.
“boleh dua mangkok gak ??” kata Pak Jajang.
“yah ! pak ! masak dua mangkok sih ?? satu aja yach ?”
“kalau gitu kamu tetap di sini sampai bel istirahat berbunyi.”
“kok gitu pak ?? ya udah dech. Dua mangkok.”
“nah gitu kek dari tadi. Sekarang cepetan masuk !!!” kata Pak Jajang sambil tersenyum puas.
Setelah memarkir kuda besi-ku, aku langsung berlari menuju “my lovely class”. Rintangan pertama berhasil di lewati, namun masih ada satu rintangan lagi sebelum aku dapat duduk manis di bangku kesayanganku.
Sesampainya di depan pintu kelas, di sinilah rintangan kedua diawali, yaitu menghadapi Pak Tarjo, guru mapel kimia. Biasanya, kalau ada siswa yang terlambat pada saat jam pelajaran beliau, siswa tersebut pasti berdiri di depan kelas dengan satu kaki dan tangan memegang telinga.
“tok tok tok” aku mengetuk pintu.
“masuk” kata Pak Tarjo.
Aku memasuki kelas dengan ragu-ragu dan kecemasan yang luar biasa. Aku menunduk.
            “silakan duduk !” kata Pak Tarjo.
Bagai mendapat durian runtuh, aku langsung menuju tempat dudukku.
            “terima kasih pak.” Aku tetap menunduk dan langsung duduk di bangku kesayanganku.
Mungkin ini terjadi karena ada siswa baru yang pindah ke sekolahku dan tepat di kelasku.
            “Silakan duduk Rina ! kamu duduk di samping Ronald.” Kata Pak Tarjo.
Sontak aku tersentak kaget. Namun hal itu wajar, mengingat aku duduk sendiri. Rina pun duduk di sampingku. Aku memperhatikannya. Cantik sekali. Mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
            “hai !” sapanya ramah dengan senyuman yang sangat manis di wajahnya.
Mendengar suara nan lembut tersebut, akupun seperti akan meleleh.
            “ha...hai juga !” aku membalasnya dengan perasaan nervous.
Aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya. Dia menyambut tanganku dengan hangat.
            “kenalin, gue Ronald.” Kataku sambil tersenyum.
            “aku Rina. Pindahan dari Bandung.” Ujarnya.
            “owh .... salam kenal ea.
***
            Jam berdentum 3 kali, menunjukan sekarang pukul 15.00. saat yang dinantikan seluruh siswa kini telah tiba, yaitu bel tanda berakhirnya pelajaran di sekolah. Setelah keluar dari kelas, aku segera mengambil motorku yang sejak tadi pagi menungguku dengan setia di parkiran sekolah. Setelah itu, aku langsung tancap gas. Ketika melewati gerbang, Pak Jajang mencegatku.
            “mana janji kamu pagi tadi ?” Pak Jajang menagih janji.
            “i..iya pak.”
Aku memberinya uang Rp 15.000.
            “nah gitu dong ! cepetan pulang sana !.” Pak Jajang mengusirku.
Beberapa meter dari gerbang, aku melihat Rina berdiri di trotoar depan sekolah seperti sedang menunggu sesuatu. Aku menghampirinya dan bertanya.
“hai Rin ! lagi nunggguin siapa ?” tanyaku
“hai juga ! lagi nungguin angkot.” Jawabnya dengan senyumnya yang khas
“ehmm.... gimana kalau aku anterin pulang ?”
“terima kasih. Tapi aku naik angkot aja. Aku takut bikin kamu kerepotan.”
“nggak kok. Aku lagi gag ada acara. Aku anterin ya ??”
“he.em.” Rina mengangguk pelan dengan wajah yang tersipu malu.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, kami berdua sering bercanda, mengobrol dan lain sebagainya. Beberapa menit kemudian, sampailah kami di rumahnya.
            “terima kasih ya Ron. Ga mampir dulu ?”
            “sama-sama. Ehm.... terima kasih tetapi maaf, sebaiknya aku langsung pulang. Mungkin lain kali. Sekali lagi, trima kasih ya.”
            “emh... ya deh.” Ujarnya singkat
            “aku pulang dulu ya. Assallamulaikum.”
            “waallaikumsalam. Hati-hati di jalan ya.”
Hari ini pun kututup dengan indah. Dengan senyuman yang merekah di bibirku.
            Semenjak itu, aku dan Rina semakin dekat, kami sering jalan bareng, SMSan, belajar bareng dan akupun seringkali main-main ke rumahnya. Dalam hatiku muncul rasa yang tidak biasa. Aku seperti ingin memilikinya. Aku telah jatuh cinta kepadanya.
            PDKTpun aku jalani untuk mendapatkan hati dan cintanya. Namun aku hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mendekatinya lebih dalam. Aku mulai mengenal lingkungannya dan aku mulai mengenal orang tua Rina.
Kini, tibalah saat-saat yang ku tunggu. Setelah melakukan PDKT selama kurang lebih 1 bulan, aku memberanikan diri untuk menembaknya. Kupilih hari yang tepat. Malam minggu ini aku mengajaknya dinner di restoran langgananku. Tempatnya sangat romantis. Dengan di temani hidangan makan malam serta sebuah lilin kecil, ku beranikan diri untuk menyatakan perasaanku kepadanya.
“malam ini indah ya.” Aku membuka percakapan.
“iya. Banyak bintangnya.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Rin, aku boleh ngomong sesuatu gag ma kamu ?” tanyaku dengan ragu
“boleh-boleh aja. Memangnya kamu mau ngomong apa cma aku ?” ujar Rina dengan nada yang sedikit menggoda.
“aku sayang sama kamu ! kamu mau ga jadi cewek aku ?” tiba-tiba aku mengucapkan kalimat singkat yang mewakili perasaanku saat ini.
            Rina sedikit kaget mendengar perkataanku tersebut. Namun sejurus kemudian, dia mengangguk pelan dan berkata,
            “ga ada alasan bagiku buat nolak kamu.” Ujarnya dengan senyuman.
            “ja...jadi kamu terima aku ?” aku meminta kepastian.
            “iya sayang.” Jawabnya singkat namun dengan nada menggoda.
Sejak saat itu, kami berdua pun resmi jadian. Hubungan kami menjadi semakin dekat. Banyak hal yang kami lalui bersama. Hari-hari menjadi semakin indah dengan hadirnya Rina dalam hidupku. Dunia pun seakan menjadi milik kami berdua.
***
            Pagi ini aku mendapat panggilan dari kepala sekolah. Aku memasuki ruangan beliau dengan gugup. Aku takut kalau aku mendapat hukuman dari beliau. Namun kekhawatiranku sirna ketika beliau memberitahukan bahwa aku mendapat beasiswa belajar di luar kota .tepatnya di Malang. Hal ini merupakan sebuah hadiah besar bagi “pahlawan kesiangan” sepertiku.
            Aku memberitahukan hal ini kepada Rina, dan Rina tampak murung mendengarnya. Ia takut kalau jauh di sana aku akan berpaling darinya. Aku meyakinkannya dan berjanji akan selalu setia.
            Kini tibalah hari keberangkatanku. Di sekolah, para guruku memberikan nasihat-nasihat sebelum aku berangkat. Sebelum memasuki mobil, aku melihat Rina sedang memandangku dengan tatapan sayu seakan tak rela melepasku. Aku menghampirinya dan membelai rambutnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku pasti akan kembali. Setelah beberapa saat, aku naik ke mobil dan mobilpun segera berangkat.
***
            Sudah dua bulan aku belajar di Malang. Dan selama dua bulan itulah komunikasiku dengan Rina hampir terputus. Aku berkonsentrasi penuh di dalam belajar namun masih aku sempatkan untuk sesekali menghubunginya, namun nomor Hpnya jarang sekali aktif.
            Setelah tiga bulan belajar Malang, kini tiba saatnya aku kembali ke Kediri. Hari pertama masuk sekolah, aku di langsung di sambut oleh para guru. Ketika memasuki kelas, teman sekelasku mengelu-elukan aku. Namun aku tidak melihat Rina. Aku menanyakan pada teman sekelasku, mereka mengatakan bahwa Rina pindah kelas.
            Jam istirahat telah tiba. Aku mengajak Johan untuk pergi ke kantin. Namun alangkah terkejutnya aku, di kantin, aku melihat Rina sedang makan bersama Rio. Mereka terlihat mesra sekali. Sesekali mereka saling menyuapi. Aku tertegun seakan tak percaya. Akupun membatalkan niatku dan kembali ke kelas.
***
            Malam ini, aku berencana nonton bersama Johan dan Febri. Pukul 19.00 mereka berdua menghampiri aku. Setelah meminta izin, akupun berangkat bersama mereka berdua. Sesampainya di bioskop, aku kembali melihat Rina bersama Rio. Kali ini mereka berdua lebih mesra. Mereka saling bergandengan tangan.
            Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan ngobrol dengan Febri, namun sial, karena kurang waspada aku menabrak Rio. Rio pun terhuyung dan Rina dengan spontan membentakku. Akupun terdiam.
            “loe ini gimana sih ? nabrak orang sembarangan !” bentak Rina.
Rina segera menolong Rio.
            “sayang nggak apa-apa kan ?” kata Rina terhadap Rio.
Johan yang terkejut dengan ucapan Rina, spontan bertanya kepada Rina dengan nada tinggi.
            “apa ? sayang ? apa gua ga salah dengar ?” Johan kaget.
            “Ron, loe liat sendiri kan kelakuan cewek loe ?”
Rina pun menoleh ke arahku.
            “loe rela kalau Rina di rebut sama Rio ?” Febri menimpali.
            “apa loe gag sayang sama Rina, cewek loe ? lanjut Febri.
Emosiku pun seakan ingin meluap. Namun aku mencoba tenang dan tersenyum. Sejurus kemudian, terlontar sebuah kalimat dari mulutku.
            “bagiku, sayang bukan berarti harus memiliki. Sayang adalah bagaimana membuat orang yang kamu sayangi tersebut merasa bahagia tanpa harus selalu memiliki orang tersebut.”
            “Rin, kalau kamu lebih bahagia sama Rio, aku rela kok J. Asalkan kamu bahagia. Aku lakuin ini bukan berarti aku gag sayang sama kamu, tapi sebaliknya”.
            “terima kasih banyak atas semua yang udah kamu berikan kepadaku. Dan maaf bila aku pernah salah. Mungkin cukup sampai di sini.”
Aku berbalik arah dan melangkah pergi. Aku berjanji dalam hati, aku akan belajar melupakannya.
***
Hari-hariku kini terasa lebih bebas karena tidak ada yang mengekang dan mengatur kehidupanku. Aku juga tidak lagi merasakan sakit hati. Ceritaku menjadi semakin berwarna berkat hadirnya sahabat-sahabatku. Aku pun berhasil melupakannya. Dan, inilah aku yang sekarang !!! bagiku cinta bukanlah suatu pemaksaan untuk mencapai kebahagiaan, tapi cinta adalah sebuah kebahagiaan yang diraih tanpa pemaksaan. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.