Malam ini aku tak bisa terlelap. Kuhitung mundur setiap detikan jam yang terus berputar. Kucoba untuk sejenak mengistirahatkan ragaku yang penat. Namun, cahaya ini menolak untuk dipadamkan. Malam semakin larut, namun aku belum berhasil untuk sekedar meremangkan cahayaku. Kunanti hingga malam mencapai puncaknya. Tiba-tiba aku teringat, seorang gadis yang selalu mengisi hari-hariku. Walau dia bukan milikku tetapi aku tahu kalau dia selalu ada untukku. Sepanjang malam ku isi dengan lamunan indahku bersamanya.
Aku mengawali hari ini tak seperti biasanya. Senyum selalu tersungging di bibirku. semua berjalan seperti apa yang kuharapkan. Hari ini adalah hari dimana aku beranjak dewasa. Dimana usiaku telah menapaki usia remaja matang. 17 tahun. Aku melihat Lala, gadis yang sepanjang malam hadir dalam lamunanku. Dia berdiri di depan gerbang sekolah. Manis sekali. Dia melambaikan tangannya. Seolah melambai padaku. Terbayang aku akan kejutan yang akan diberikannya kepadaku di hari ulang tahunku. Namun bayangan indah itu hilang oleh sesosok tubuh yang berjalan mendahuluiku menemui lala.
Aku tak percaya. Seorang gadis yang selama ini aku dambakan kini telah menjadi milik orang lain. Aku hancur. Bahkan lebih hancur dari debu. Ulang tahun ini adalah ulang tahun yang tidak pernah aku harapkan dalam perjalanan hidupku.
###
Malam ini terasa asing bagiku. Bulan enggan menyapaku. Hanya mendung yang menggelayut yang menemaniku. Kubiarkan tubuhku terkurung dalam kesendirian malam. Ungkapan “sweet seventeen” kini tak berlaku bagiku. Kucurahkan semua isi hati ini dalam sebuah diary kecil. Hanya dialah tempat dimana aku bisa bercerita. Sedikit memang, tapi tak apalah. Kulukiskan semua kisahku dalam diary itu. Hidup tanpa teman menurutku jauh lebih baik.
###
Seminggu berlalu, aku semakin terpuruk dalam kesendirian, semakin malas untuk berinteraksi dengan siapapun. Hanya diary kecil ini yang menemaniku.
Hari ini aku kubuka mataku dengan malas. Seakan ada yang menghalangi aku untuk pergi ke sekolah. Langkah gontai mengiringi perjalananku kali ini. Aku padam. Api dalam diri ini mati tertiup oleh angin. Aku malas menjawab semua sapaan hangat teman-temanku. Ya, sekali lagi, hidup tanpa teman jauh lebih baik.
###
“kriinggg……kriinggg” bel tanda pulang sudah berbunyi.
Namun aku begitu malas untuk beranjak. Kuabaikan semua ajakan pulang yang teralamat kepadaku. Kutundukkan kepalaku beralaskan tanganku yang terlipat di meja. 15 menit berlalu, kelas sudah tak berpenghuni. Kuangkat kepalaku menatap seisi ruang kelas ini. Terhenti pengamatanku pada sebuah buku kecil yang terletak di bangku paling depan deretan sebelah kanan. Rasa penasaran mendorong otakku untuk memerintahkan kakiku melangkah menghampiri buku tersebut. Kuambil buku berwarna pink itu, kuamati. Kubuka lembar pertama dari buku itu, tertulis “this book belongs to mytha”. Mytha adalah bintang di kelasku. Dia selalu menduduki peringkat pertama di kelas. Namun di balik kepandaiannya tersebut, mytha adalah sosok anak pendiam dan jarang berinteraksi dengan sekitarnya.
Kubuka lembar demi lembar, sampai pada sebuah halaman yang terlipat. Kubaca isi diary tersebut,
Senin 13 januari 2010
“kuharap ini hari yang baik untukku, lomba ini adalah caraku untuk membanggakan ibuku. Semua persyaratan telah terpenuhi, namun ada yang kurang, ahh…. Akta kelahiran. Aku bertanya pada ibu dan ibu memintaku untuk mencarinya di lemari. ku teliti semua berkas yang ada. Namun kenyataan pahit yang harus kuterima. aku menemukan secarik surat yang berisi persetujuan pengadopsian diriku dari panti asuhan. Tanpa sadar air mataku terjatuh. Kenapa ibu tidak memberitahuku dari awal ??”
Kubawa diary kecil itu.
“bruk….” Kurebahkan diriku di tempat tidurku. Setidaknya bisa mengurangi rasa penat selama mengikuti pelajaran di sekolah tadi. Kuletakkan diary itu di atas meja belajarku.
Kunikmati malam ini dengan duduk tertegun di serambi rumah. Namun, malam ini tetap seperti kemarin, tak ada yang menemaniku. Aku merenungkan kata-kata mytha tadi. Dia adalah anak angkat, pasti sakit sekali jika mengetahuinya secara langsung. Meski begitu, dia masih dapat meraih prestasi yang gemilang. Sedangkan aku, aku patah hanya gara-gara seorang cewek, padahal ada yang lebih baik dari itu yaitu orang tuaku. Aku bertekad untuk menghapus memori buruk ini.
Samar kudengar suara isak tangis dari dalam rumah. Isak tangis yang begitu pilu. Aku terlambat menyadari bahwa isak tangis itu sebenarnya berasal dari orang yang selama ini mengasuhku. Ibu. Aku segera beranjak dan mendapati ibukusss sedang menangis terisak sambil memeluk diary kecil milik mytha.
“ibu, kenapa ibu menangis?”
Sembari terisak, ibuku mencoba menjawabnya.
“akhirnya kau tahu nak apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku masih tidak paham tentang maksud dari ucapan ibuku tadi.
“maksud ibu apa?”
Ibu menghela nafas, mencoba untuk mengaturnya kembali.
“mungkin inilah saat yang tepat bagi ibu untuk memberitaukan yang sebenarnya terjadi.”
Aku semakin tidak paham dengan ucapan ibuku.
“sebenarnya kamu bukanlah darah daging ibu sendiri nak. Ibu mengadopsi kamu saat kamu baru berusia 5 bulan.”
Mendengar kenyataan seperti itu, bagaikan tersambar petir. Aku hancur dan terbakar. Mata ini tak sanggup lagi untuk membendung buliran-buliran air yang terjatuh. Terjatuh dan bersimpuh. Ibu memelukku erat. Lembut dan hangat. Kembali aku teringat diary mytha. Terima kasih, karena telah mengungkap tabir kejujuran untukku.

0 komentar:
Posting Komentar